Showing posts with label laporan pendahuluan. Show all posts
Showing posts with label laporan pendahuluan. Show all posts

November 14, 2012

laporan pendahuluan mastoiditis


MASTOIDITIS

Batasan :
Infeksi akut dan kronik yang mengenai mukosa dan sel – sel mastoid, yang merupakan kelanjutan dari proses Otitis media akut supuratif yang tidak teratasi.
Etiologi :
Kuman penyebab :
-          S. Pneumonie
-          S. Aureus
-          H.Influenza
Patofisiologi :
Keradangan pada mukosa kavum timpani pada otitis media supuratif akut dapat menjalar ke mukosa antrum mastroid. Bila terjadi gangguan pengaliran sekret melalui aditus ad antrum dan epitimpanum menimbulkan penumpukan sekret di antrum sehingga terjadi empiema dan menyebabkan kerusakan  pada sel – sel mastoid.
Diagnosis Banding :
  1. Anamnesis :
-          Nyeri dan rasa penuh di belakang telinga
-          Otorea terus menerus selama lebih dari 6 minggu
-          Febris / Subfebris
-          Pendengaran berkurang
  1. Pemeriksaan :
-          Daun telinga terdorong kedepan  lateral bawah, sulkus retroaurikuler menghilang (infiltrat/Abses Retroaurikula).
-          Nyeri tekanan pada planum mastoid.
-          Pada otoskopi tampak :
v  Dinding belakang atas MAE menurun (“Sagging”)
v  Perforasi membran timpani
v  “Reservoir sigh”
v  Sekret mukopurulen

  1. Pemeriksaan tambahan :
v  Pada X foto mastoid Schuller tampak kerusakan sel – sel mastoid (Rongga Empiema)
v  Limphadonitis retroauricularis
v  Athoroma yang mengalami infokasi
Penyulit :
-          Abses subperiosteal (retroaurikula)
-          Paresis/paralisis syaraf fasialis
-          Labirintitis
-          Komplikasi intrakranial : Abses perisinus. Abses ekstra dural, Meningitis, Abses otak.
Terapi :
-          Operasi : Mastoidektomi simpel.
-          Antibiotik : ampisillin/amoksillin i.v atau oral 4 x 500 – 1000 mg di berikan selama 7 – 10 hari. Untuk yang alergi terhadap ampisillin / amoksillin dapat di berikan Eritromisin  dengan dosis 3 – 4 x 500 mg, selama 7 – 10 hari.
-          Analgesik / Antipiretik : Parasetamol / Asetosal / Metampiror bila diperlukan.


ASUHAN KEPERAWATAN

PENGKAJIAN
Keluhan yang spesifik :
-          Adanya nyeri dan rasa penuh di belakang telinga
-          Otorea terus menerus selama lebih dari 6 minggu
-          Febris / Subfebris
-          Pendengaran berkurang
  1. Pemeriksaan :
-          Daun telinga terdorong kedepan  lateral bawah, sulkus retroaurikuler menghilang (infiltrat/Abses Retroaurikula).
-          Nyeri tekanan pada planum mastoid.
-          Pada otoskopi tampak :
v  Dinding belakang atas MAE menurun (“Sagging”)
v  Perforasi membran timpani
v  “Reservoir sigh”
v  Sekret mukopurulen
  1. Pemeriksaan tambahan :
v  Pada X foto mastoid Schuller tampak kerusakan sel – sel mastoid (Rongga Empiema)
v  Limphadonitis retroauricularis
v  Athoroma yang mengalami infokasi

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.      Nyeri sehubungan dengan proses peradangan
2.      Gangguan sensori / presepsi sehubungan dengan  kerusakan pada telinga tengah
3.      Intoleransi aktifitas sehubungan dengan nyeri
4.      Ansietas sehubungan  dengan kurangnya pengetahuan mengenai pengobatan  dan pencegahan kekambuhan
5.      Isolasi sosial sehubungan dengan penurunan pendengaran
6.      Resiko tinggi trauma sehubungan dengan gangguan presepsi pendengaran
7.      Kurangnya pengetahuan mengenai pengobatan  dan pencegahan kekambuhan

INTERVENSI KEPERAWATAN

Memberikan rasa nyaman

  1. Mengurangi rasa nyreri
Ø  Beri aspirin/analgesik sesuai instruki
Ø  Kompres dingin di sekitar area telinga
Ø  Atur posisi
Ø  Beri sedatif sesuai indikasi
A.    Mencegah penyebaran infeksi
Ø  Ganti balutan tiap hari  sesuai keadaan
Ø  Observasi tanda – tanda infeksi lokal
Ø  Ajarkan klien tentang pengobatan
Ø  Amati penyebaran infeksi pada otak :
Tanda vital,  menggigil, kaku kuduk.
B.     Monitor gangguan sesori
Ø  Catat status pendengaran
Ø  Ingatkan klien bahwa vertigo dan nausea dapat terjadi setelah radikal mastoidectomi karena gangguan telinga dalam. Berikan tindakan pengamanan.
Ø  Perhatikan droping wajah unilateral atau mati rasa karena perlukaan (injuri) saraf wajah.
C.     H.E
Ø  Ajarkan klien mengganti balutan dan menggunakan antibiotik secara kontinu sesuai aturan
Ø  Beritahu komplikasi yang mungkin terjadi dan bagaimana melaporkannya
Ø  Tekankan hal – hal yang penting yang perlu di follow up,evaluasi pendengaran
D.    Terapi medik
Ø  Antibiotik dan tetes telinga : Steroid
Ø  Pengeluaran debris dan drainase pus untuk melindungi jaringan dari kerusakan : miringotomy
E.     Interfensi bedah
Ø  Indikasi jika terdapat chaolesteatoma
Ø  Indikasi jika terjadi nyeri, vertigo,paralise wajah, kaku kuduk, (gejala awal meningitis atau obses otak)
Ø  Tipe prosedur
§  Simpel mastoid decstomi
§  Radical mastoiddectomi

September 25, 2012

laporan pendahuluan Ca. laring


LAPORAN PENDAHULUAN
KLIEN DENGAN CA NASOFARING


A.    Pengertian
Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas yang tumbuh di daerah nasofaring dengan predileksi di fossa Rossenmuller dan atap nasofaring.  Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di Indonesia. (Efiaty & Nurbaiti, 2001)

B.    Etiologi
Insidens karsinoma nasofaring yang tinggi ini dihubungkan dengan kebiasaan makan, lingkungan dan virus Epstein-Barr (Sjamsuhidajat, 1997). Selain itu faktor geografis, rasial, jenis kelamin, genetik, pekerjaan, kebiasaan hidup, kebudayaan, sosial ekonomi, infeksi kuman atau parasit  juga sangat mempengaruhi kemungkinan timbulnya tumor ini. Tetapi sudah hampir dapat dipastikan bahwa penyebab karsinoma nasofaring adalah virus Epstein-barr, karena pada semua pasien nasofaring didapatkan titer anti-virus EEB yang cukup tinggi (Efiaty & Nurbaiti, 2001).

C.    Pathofisiologi / Pathways
Terlampir


D.    Tanda dan Gejala
Gejala karsinoma nasofaring dapat dikelompokkan menjadi 4 bagian, yaitu antara lain :
1.    Gejala nasofaring
Gejala nasofaring dapat berupa epistaksis ringan atau sumbatan hidung.
2.    Gangguan pada telinga
Merupakan gejala dini karena tempat asal tumor dekat muara tuba Eustachius (fosa Rosenmuller). Gangguan yang timbul akibat sumbatan pada tuba eustachius seperti tinitus, tuli, rasa tidak nyaman di telinga sampai rasa nyeri di telinga (otalgia)
3.    Gangguan mata dan syaraf
Karena dekat dengan rongga tengkorak maka terjadi penjalaran melalui foramen laserum yang akan mengenai saraf otak ke III, IV, VI sehingga dijumpai diplopia, juling, eksoftalmus dan saraf ke V berupa gangguan motorik dan sensorik.
Karsinoma yang lanjut akan mengenai saraf otak ke IX, X, XI dan XII jika penjalaran melalui foramen jugulare yang sering disebut sindrom Jackson. Jika seluruh saraf otak terkena disebut sindrom unialteral.
4.    Metastasis ke kelenjar leher
Yaitu dalam bentuk benjolan medial terhadap muskulus sternokleidomastoid yang akhirnya membentuk massa besar hingga kulit mengkilat.

E.    Pemeriksaan Penunjang
1.    Pemeriksaan CT-Scan daerah kepala dan leher untuk mengetahui keberadaan tumor sehingga tumor primer yang tersembunyi pun akan ditemukan.
2.    Pemeriksaan Serologi IgA anti EA dan IgA anti VCA untuk mengetahui infeksi virus E-B.
3.    Untuk diagnosis pasti ditegakkan dengan Biopsi nasofaring dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dari hidung dan mulut. Dilakukan dengan anestesi topikal dengan Xylocain 10 %.
4.    Pengerokan dengan kuret daerah lateral nasofaring dalam narkosis.




F.    Penatalaksanaan Medis
1.    Radioterapi merupakan pengobatan utama
2.    Pengobatan tambahan yang diberikan dapat berupa diseksi leher ( benjolan di leher yang tidak menghilang pada penyinaran atau timbul kembali setelah penyinaran dan tumor induknya sudah hilang yang terlebih dulu diperiksa dengan radiologik dan serologik) , pemberian tetrasiklin, faktor transfer, interferon, kemoterapi, seroterapi, vaksin dan antivirus.
Pemberian ajuvan kemoterapi yaitu Cis-platinum, bleomycin dan 5-fluorouracil. Sedangkan kemoterapi praradiasi dengan epirubicin dan cis-platinum. Kombinasi kemo-radioterapi dengan mitomycin C dan 5-fluorouracil oral sebelum diberikan radiasi yang bersifat “RADIOSENSITIZER”.

G.    Pengkajian
1.    Faktor herediter atau riwayat kanker pada keluarga misal ibu atau nenek dengan riwayat kanker payudara
2.    Lingkungan yang berpengaruh seperti iritasi bahan kimia, asap sejenis kayu tertentu.
3.    Kebiasaan memasak dengan bahan atau bumbu masak tertentu dan kebiasaan makan makanan yang terlalu panas serta makanan yang diawetkan ( daging dan ikan).
4.    Golongan sosial ekonomi yang rendah juga akan menyangkut keadaan lingkungan dan kebiasaan hidup.
5.    Tanda dan gejala :
    Aktivitas
Kelemahan atau keletihan. Perubahan pada pola istirahat; adanya faktor-faktor yangmempengaruhi tidur seperti nyeri, ansietas.

    Sirkulasi
Akibat metastase tumor terdapat palpitasi, nyeri dada, penurunan tekanan darah, epistaksis/perdarahan hidung.
    Integritas ego
Faktor stres, masalah tentang perubahan penampilan, menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, kehilangan kontrol, depresi, menarik diri, marah.
    Eliminasi
Perubahan pola defekasi konstipasi atau diare, perubahan eliminasi urin, perubahan bising usus, distensi abdomen.
    Makanan/cairan
Kebiasaan diit buruk ( rendah serat, aditif, bahanpengawet), anoreksia, mual/muntah, mulut rasa kering, intoleransi makanan,perubahan berat badan, kakeksia, perubahan kelembaban/turgor kulit.
    Neurosensori
Sakit kepala, tinitus, tuli, diplopia, juling, eksoftalmus
    Nyeri/kenyamanan
Rasa tidak nyaman di telinga sampai rasa nyeri telinga (otalgia), rasa kaku di daerah leher karena fibrosis jaringan akibat penyinaran
    Pernapasan
Merokok (tembakau, mariyuana, hidup dengan seseorang yang merokok), pemajanan
    Keamanan
Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen, pemajanan matahari lama / berlebihan, demam, ruam kulit.
    Seksualitas
Masalah seksual misalnya dampak hubungan, perubahan pada tingkat kepuasan.
    Interaksi sosial
Ketidakadekuatan/kelemahan sistem pendukung

DAFTAR PUSTAKA


1.    Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001.
2.    Doenges, Marilynn E. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih bahasa I Made Kariasa. Ed. 3. Jakarta : EGC;1999
3.    Efiaty Arsyad Soepardi & Nurbaiti Iskandar. Buku Ajar Ilmu Kesehatan : Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Jakarta : Balai Penerbit FKUI; 2001
4.    R. Sjamsuhidajat &Wim de jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi revisi. Jakarta : EGC ; 1997
5.   Purnaman S. Pandi.
















September 19, 2012

laporan pendahuluan abortus










Pemeriksaan Diagnostik        :

1.  Test HCG Urine                 Indikator kehamilan                            Positif 
2. Ultra Sonografi                   Kondisi janin/cavum ut           terdapat janin/sisa janin
3. Kadar Hematocrit/Ht          Status Hemodinamika             Penurunan (< 35 mg%)
4. Kadar Hemoglobin             Status Hemodinamika             Penurunan (< 10 mg%)
5. Kadar SDP                          Resiko Infeksi                         Meningkat(>10.000 U/dl)
6. Kultur                                  Kuman spesifik                       Ditemukan kuman




DIAGNOSA  KEPERAWATAN

  1. Devisit Volume Cairan s.d perdarahan
  2. Gangguan Aktivitas s.d kelemahan, penurunan sirkulasi
  3. Gangguan rasa nyaman: Nyeri s.d kerusakan jaringan intrauteri
  4. Resiko tinggi Infeksi s.d perdarahan, kondisi vulva lembab
  5. Cemas s.d kurang pengetahuan



INTERVENSI KEPERAWATAN :
  1. Devisit Volume Cairan s.d Perdarahan
Tujuan :
Tidak terjadi devisit volume cairan, seimbang antara intake dan output baik jumlah maupun kualitas.
Intervensi :
a.       Kaji kondisi status hemodinamika
R : Pengeluaran cairan pervaginal sebagai akibat abortus memiliki karekteristik bervariasi
b.      Ukur pengeluaran harian
R : Jumlah cairan ditentukan dari jumlah kebutuhan harian ditambah dengan jumlah cairan yang hilang pervaginal
c.       Berikan sejumlah cairan pengganti harian
R : Tranfusi mungkin diperlukan pada kondisi perdarahan masif
d.      Evaluasi status hemodinamika
R : Penilaian dapat dilakukan secara harian melalui pemeriksaan fisik

  1. Gangguan Aktivitas s.d kelemahan, penurunan sirkulasi
Tujuan :
Kllien dapat melakukan aktivitas tanpa adanya komplikasi
Intervensi :
a.       Kaji tingkat kemampuan klien untuk beraktivitas
R : Mungkin klien tidak mengalami perubahan berarti, tetapi perdarahan masif perlu diwaspadai untuk menccegah kondisi klien lebih buruk
b.      Kaji pengaruh aktivitas terhadap kondisi uterus/kandungan
R : Aktivitas merangsang peningkatan vaskularisasi dan pulsasi organ reproduksi
c.       Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari
R : Mengistiratkan klilen secara optimal
d.       Bantu klien untuk melakukan tindakan sesuai dengan kemampuan/kondisi klien
R : Mengoptimalkan kondisi klien, pada abortus imminens, istirahat mutlak sangat diperlukan
e.       Evaluasi  perkembangan   kemampuan klien melakukan aktivitas
R : Menilai kondisi umum klien

  1. Gangguan rasa nyaman : Nyeri s.d Kerusakan jaringan intrauteri
Tujuan :
Klien dapat beradaptasi dengan nyeri yang dialami
Intervensi :
a.       Kaji kondisi nyeri yang dialami klien
R : Pengukuran nilai ambang nyeri dapat dilakukan dengan skala maupun dsekripsi.
b.      Terangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya
R : Meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance mengatasi nyeri
c.       Kolaborasi pemberian analgetika
R : Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan dengan pemberian analgetika oral maupun sistemik dalam spectrum luas/spesifik


  1. Resiko tinggi Infeksi s.d perdarahan, kondisi vulva lembab
Tujuan :
Tidak terjadi infeksi selama perawatan perdarahan
Intervensi :
a.       Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar ; jumlah, warna, dan bau
R : Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji setiap saat dischart keluar. Adanya warna yang lebih gelap disertai bau tidak enak mungkin merupakan tanda infeksi
b.      Terangkan pada klien pentingnya perawatan vulva selama masa perdarahan
R : Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan genital yang lebih luar
c.       Lakukan pemeriksaan biakan pada dischart
R : Berbagai kuman dapat teridentifikasi melalui dischart
d.      Lakukan perawatan vulva
R :Inkubasi kuman pada area genital yang relatif cepat dapat menyebabkan infeksi.
e.       Terangkan pada klien cara  mengidentifikasi tanda inveksi
R : Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda nonspesifik infeksi; demam dan peningkatan rasa nyeri mungkin merupakan gejala infeksi
f.       Anjurkan pada suami untuk   tidak melakukan hubungan senggama se;ama masa perdarahan
R : Pengertian pada keluarga sangat penting artinya untuk kebaikan ibu; senggama dalam kondisi perdarahan dapat memperburuk kondisi system reproduksi ibu dan sekaligus meningkatkan resiko infeksi pada pasangan.

  1. Cemas s.d kurang pengetahuan
Tujuan :
Tidak terjadi kecemasan, pengetahuan klien dan keluarga terhadap penyakit meningkat
Intervensi :
a.       Kaji tingkat pengetahuan/persepsi  klien dan keluarga terhadap penyakit
R : Ketidaktahuan dapat menjadi dasar peningkatan rasa cemas
b.      Kaji derajat kecemasan yang dialami klien
R : Kecemasan yang tinggi dapat menyebabkan penurunan penialaian objektif klien tentang penyakit
c.       Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan
R : Pelibatan klien secara aktif dalam tindakan keperawatan merupakan support yang mungkin berguna bagi klien dan meningkatkan kesadaran diri klien
d.      Asistensi klien menentukan tujuan perawatan bersama
R : Peningkatan nilai objektif terhadap masalah berkontibusi menurunkan kecemasan
e.       Terangkan hal-hal seputar aborsi  yang perlu diketahui oleh klien dan keluarga
R : Konseling bagi klien sangat diperlukan bagi klien untuk meningkatkan pengetahuan dan membangun support system keluarga; untuk mengurangi kecemasan klien dan keluarga.




Referensi :
1.      Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Unpad(1981) Obstetri Patologi, Elstar Offset, Bandung
2.      JNPKKR-POGI (2000), Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta
3.      Wong,Dona L& Perry, Shanon W (1998) Maternal Child Nursing Care, Mosby Year Book Co., Philadelphia
4.      – (--), Protap Pelayanan Kebidanan RSUD Dr. Sutomo Surabaya, Surabaya
 
Copyright © 2010 Askep Lengkap. All rights reserved.
Blogger Template by